Focus: Jakarta Photo & Digital Imaging Expo 2012, 29 Februari – 4 Maret 2012

Buat anda para penggemar fotografi digital, pameran ini diadakan untuk anda…

Kalau anda suka berlangganan majalah fotografi digital semacam CHIP Foto Video dan Digital Camera, informasi soal pameran ini mungkin sudah pernah anda baca di edisi Desember 2011. Dan buat saya pribadi, setelah tahu bahwa ada pameran seperti ini, saya rasanya tidak sabar menunggu tanggal 29 Februari, hehehe..

Saya datang kira-kira jam 19.00 (dengan sedikit harap-harap cemas, takut pamerannya sudah mendekati selesai). Kesan pertama: ramai! Yah, tidak heran, karena pameran ini diadakan bersamaan dengan salah satu event penjualan komputer terbesar tiap tahunnya, yaitu Mega Bazaar Computer/MBC 2012. Tampaknya biarpun akhir bulan (yang notabene harusnya orang-orang masih pada lembur di kantor, sibuk dengan closing), animo masyarakat untuk pergi ke pameran ini masih besar. Anda bisa lihat sendiri di bawah ini, parkiran motor yang biasanya cuma seperempat lapangan, sekarang full dibuka semua.

Informasi tambahan: harga tiket masuknya Rp. 5,000 saja, berlaku untuk kedua pameran tersebut (FOCUS dan MBC). Ini yang saya sebut hiburan murah meriah, hehehe..

Masuk ke area pameran FOCUS, saya langsung mencari stand “the big four”. Apa itu “the big four”? Ini sebenarnya istilah yang saya adopsi dari dunia sepeda motor. Kalau di sepeda motor, 4 pabrikan terbesar adalah Honda, Yamaha, Suzuki, dan Kawasaki,  “the big four”. Nah, kalau di dunia fotografi, menurut saya ada 4 pemain besarnya: Canon, Nikon, Olympus, dan Sony.

Di stand Canon, daya tarik utamanya masih dari lini produk EOS, dengan highlight di EOS 7D, EOS 60D, EOS 600D. Ada tawaran menarik di stand ini: beli body SLR, dapatkan discount khusus untuk pembelian lensa. Iseng-iseng menanyakan harga SpeedLite 430 EX II, menurut penjaga stand dilego dengan harga Rp. 2,9 juta. Agak sedikit kecewa ketika menanyakan keberadaan G1X dan S100 yang menurut si mas-mas penjaga stand “belum masuk mas!”.

Kemudian di sebelah stand Canon, stand Sony tampak berdiri megah, dengan produk unggulan seri NEX-7 dan SLT A77. Teknologi SLT (Single Lens Translucent) dari Sony (yang menjanjikan continous autofocus dan burst shoot yang cepat) tampak sangat menjanjikan di masa mendatang. Cuma saya kurang sreg dengan electronic viewfinder (EV) yang hanya bisa digunakan ketika kamera dihidupkan. Tapi OLED EV yang digunakan Sony memang luar biasa terang dan kaya warna, serta bidang pandang yang lebih luas dibanding optical viewfinder konvensional. Tapi tentunya pilihan ada di tangan anda. NEX-7 dibundling dengan lensa 18-55 dibandrol Rp. 12 juta. Cukup mahal, tapi dengan desain body yang mewah dan bobot lensa yang menurut saya paling ringan yang pernah saya coba, istilah “harga gak bohong” terasa ada benarnya. SLT-A77 dengan lens kit 18-55 dihargai Rp. 20,1 juta.

Lalu menuju stand Nikon. Sales highlight untuk tahun ini adalah seri 1 (V1 dan J1), disamping mainstream DSLR seperti D3100 dan D5100. Di belakang nampak beberapa staff menyiapkan dekor panggung dengan label “D4”, mungkin akan ada showcase Nikon D4 (yang menurut berita-berita di website adalah kamera Nikon terbaik saat ini, dengan sensor 36,3 megapixel dan segudang fitur canggih lainnya) entah esok atau lusa..

Seri PEN adalah daya tarik utama di stand Olympus. Nampak beberapa pengunjung sedang mengantri di kasir untuk membayar, pertanda bahwa PEN laris manis di pameran ini mungkin? Saya menyempatkan diri untuk mencoba salah satu E-P3 yang dipamerkan, dan sangat terkesan dengan kecepatan autofocus nya. Tapi sedikit kurang puas dengan kualitas LCD dan color hue yang dihasilkan pada settingan auto. Mungkin lain ceritanya kalau di settingan P atau M..

Ada sedikit kerumunan pengunjung di stand Tamron. Rupanya selain menawarkan potongan harga yang menarik, di stand ini ada workshop dengan topik “Alat Minimal Hasil Maksimal”. Menarik bukan? Oh ya, bicara soal Tamron, tadi di dekat pintu masuk, seorang bapak nampaknya tertarik dengan Tamron yang saya gunakan, “mas, itu Tamron yang berapa ya?”. “oh, ini yang 18-270 pak”. Boleh bangga sedikit lah, soalnya banyak yang meremehkan kualitas dan kemampuan lensa Tamron.

Beberapa sekolah fotografi juga buka stand di pameran ini. Saya menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan penjaga stand di Darwis Setiadi School of Photography. Untuk kelas Intermediate ada 15 sesi, setiap Senin dan Rabu. Ada 2 pilihan kelas (kelas sore 15:00 – 17:00 dan kelas malam 19:00 – 21.30), dan materi-materinya mencakup topik-topik menarik seperti “architecture & interior photography”, “landscape photography”, dan “pre-wedding photography”. Biaya cukup terjangkau, hanya Rp. 5 juta saja. Ada juga Canon School of Photograph Community, pendidikan berbasis komunitas pengguna Canon (dari anda, oleh anda, untuk anda). Bisa dipertimbangkan kalau anda suka atmosfer belajar yang lebih akrab dan tanpa jarak antara murid-guru.

Beberapa komunitas fotografi nampak juga turut ambil bagian di pameran ini.

Di pameran ini juga ada berbagai workshop dari para fotografer kawakan, dan juga berbagai lomba fotografi. Saya melihat ada kontes foto pre-wedding sedang berlangsung, dengan model-model ekspatriat. Walaupun tidak ikut lomba, tapi iseng-iseng saya ambil 1-2 gambar buat koleksi, hehehe..

Di stand Samsung daya tarik utamanya adalah para SPGnya, eh, bukan, maksud saya NX200 dan MV800 :p. NX200 adalah andalan Samsung untuk bersaing di pasar kamera mirrorless interchangeable lens, berhadapan dengan NEX nya Sony dan PEN nya Olympus. Kesan pertama, kamera ini desainnya bagus, futuristik, dan bobotnya ringan, disertai dengan sensor APS-C resolusi tinggi di kelasnya (20 megapiksel, NEX-7 24.3 megapiksel, EP-3 12.3 megapiksel) . Cuma pilihan lensanya belum banyak. Sedangkan MV800 adalah kamera saku mainstream dengan keunggulan LCD yang bisa dilipat ke atas, memudahkan untuk mengambil self-photo,berguna sekali buat anda yang sedikit narsis, hehehe..

Kalau soal SPG, memang SPGnya Samsung lebih ‘unyu-unyu’ dibanding yang lain, hehehe…

Sepertinya Pentax tidak buka stand di pameran ini. Cukup disayangkan, karena saya penasaran sama Pentax Q yang konon terkecil di kelas mirrorless..

Beberapa toko kamera terkenal seperti Bursa Kamera Profesional, MLM Foto, dll juga ikut serta di pameran ini, dan tentunya dengan berbagai promo-promo menarik.

Stand majalah-majalah fotografi ternama juga ada, lumayan buat melengkapi koleksi majalah anda. Tersedia goodie bag yang menarik untuk yang mau mulai berlangganan.

Terakhir, menuju pintu keluar, saya mampir sebentar ke stand Fujifilm. ‘Primadona’ di stand ini adalah X10, kamera dengan desain retro dan mengusung hybrid viewfinder, pertama di kelasnya. Dan tentunya tersedia promo-promo menarik, terutama untuk tipe kamera saku.

Akhir kata: bagi anda peminat fotografi, apapun level anda (bahkan pemula seperti saya), pameran ini jangan sampai terlewatkan.

– Jakarta, 1 Maret 2012 –

2 thoughts on “Focus: Jakarta Photo & Digital Imaging Expo 2012, 29 Februari – 4 Maret 2012

  1. Sedikit koreksi, sebenarnya yang jadi primadona adalah X-Pro1 dengan Hybrid Multi View Finder, yang dalam waktu dekat akan dilaunch ke pasar. Sementara X10 merupakan most wanted to buy product’s.

Masukan anda sangat berarti:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s