Made in Indonesia, 16-20 Mei 2012

Sebelum saya mulai laporan saya kali ini, saya ingin meminta bantuan anda sedikit: mohon anda lihat barang-barang yang anda punya saat ini, atau yang baru anda beli belakangan ini, dan lihat di labelnya buatan dari negara manakah barang tersebut. Saya berani tebak, pasti kebanyakan bertuliskan “made in China”, “made in Thailand”, dan mungkin beberapa bahkan “made in Japan” atau made in USA”. Kemudian, saya ingin anda memikirkan sejenak, apa saja sih barang-barang yang biasa kita temui yang berlabelkan “made in Indonesia”..

Bingung menjawabnya? Mungkin pameran yang saya kunjungi tadi bisa sedikit banyak menjawab pertanyaan tersebut..

Seperti judulnya, pameran ini mencoba mengangkat berbagai kreasi dan produksi anak bangsa kita. Dan dari apa yang saya lihat, saya bisa mengatakan bahwa sudah saatnya bangsa kita berbangga dengan apa yang bisa dihasilkan oleh anak bangsa kita sendiri. Kualitas dan inovasi produk-produk kita tidak kalah dari produk-produk buatan luar negeri, bahkan beberapa sudah berhasil meraih kesuksesan di pasar internasional.

Mari kita mulai.. Pertama, tentunya kerajinan tangan (handicraft) masih merupakan daya tarik dan bahkan terasosiasikan dengan label “buatan Indonesia”. Di pameran ini anda akan menemukan bahwa batik, kain tradisional, pernak-pernik etnik, perhiasan dan lain-lain masih mendominasi area pameran.

Di salah satu sudut area  pameran saya menemukan stand yang menjual berbagai kerajinan kulit seperti dompet, ikat pinggang dan lain-lain dengan satu harga Rp. 50 ribu, all items. Saya menyempatkan diri untuk membeli ikat pinggang hitam di stand ini (berhubung ikat pinggang yang lama kulitnya sudah mulai rusak).

Lalu seorang salesperson dengan ramah menyapa saya dan menawarkan produknya, yaitu tinta printer bermerk “F1”, asli produksi dalam negeri. Sang salesperson menjelaskan bahwa tinta ini kompatibel dengan printer-printer inkjet ternama seperti Epson, Canon, HP, dan lainnya, baik printer rumahan maupun large-format printer. Saya menanyakan apakah mereka menjual dalam bentuk replacement cartridge juga, yang sayangnya dijawab “tidak pak, kami hanya produksi tintanya saja. Untuk pengaplikasian, masih menggunakan metode suntik cartridge, atau kalau printer bapak yang kayak Epson dengan teknologi ink-tank, tidak perlu disuntik lagi pak”. Sedikit interogasi tambahan, saya mendapatkan info bahwa pabriknya di Sentul, Bogor, dan untuk saat ini produk-produknya baru bisa dijumpai di toko-toko komputer, berhubung kantor sales representative nya kebetulan juga di daerah sentra komputer, yaitu di Mangga Dua, Jakarta Pusat sana.

Maket pesawat CN-235 buatan PT. Dirgantara Indonesia nampaknya menarik untuk difoto, sehingga saya menyempatkan mampir sebentar di stand yang terletak di area lobby. Sambil mengambil foto, terpikirkan oleh saya, “pernah ada kasus CN-235 jatuh gak sih?”. Sedikit survey di Internet, saya mendapatkan bahwa sejak pesawat ini di produksi dari tahun 1983 hingga sekarang, baru ada 3 insiden yang berakibat fatal dan dikategorikan sebagai “notable accidents” di Wikipedia. Silahkan dilihat di sini untuk informasi lengkapnya.

Oh ya, sadar tidak sadar, ternyata helm INK dan KYT yang mungkin sering anda lihat di mana-mana, ternyata produksi dalam negeri lho! Untuk ukuran helm lokal yang sudah mendapatkan sertifikasi DOT (Department of Transport, Amerika), tentunya ini prestasi yang bisa dibanggakan.

Sedikit bincang-bincang dengan mas-mas penjaga stand, untuk INK MH-1 (seperti yang saya ceritakan di liputan Otobursa minggu lalu) masih dibanderol seharga Rp 400 rb. Line-up unggulan untuk INK adalah helm modular yang saya lupa tipe apa namanya, seharga Rp 1.06 juta. Disainnya futuristik, lancip seperti kepala elang, dan sudah dilengkapi double-visor dan pengunci helm biar tidak dicuri. Alternatif yang lebih murah ditawarkan oleh KYT, dengan disain kepala elang yang mirip, cuma sedikit lebih berat daripada INK, dihargai Rp. 475 ribu.

Kalau anda pernah  memperhatikan, di bis-bis antar kota dan kendaraan angkut berat lainnya, suka ada tulisan “karoseri buatan New Armada, Indonesia”. Nah, kalau anda penasaran “kayak apa sih susahnya bikin karoseri? bisa dibikin di Indonesia berarti gak susah dong?”, mungkin maket model yang terdapat di stand New Armada ini bisa menjawab rasa penasaran anda. Dan oh ya, dengar-dengar bis-bis yang menggunakan karoseri ini sudah di ekspor hingga ke Thailand dan Singapura lho!

Salah satu stand menampilkan kendaraan-kendaraan mini untuk keperluan mobile store dan pengangkut sampah.

Inovasi penghemat BBM berjudul “Eco Power Booster” yang pernah saya baca di suatu surat kabar ternama ternyata hadir juga di pameran ini. Teknologinya menggunakan air yang di “suntikkan” pada proses pembakaran di dalam mesin, sehingga hasil akhirnya adalah proses pembakaran yang lebih sempurna. Alhasil, efisiensi penggunaan bahan bakar meningkat, emisi jauh lebih bersih, dan endapan karbon lebih minim.

Seorang penjaga stand agak sedikit memaksa saya untuk mampir sebentar di stand nya, yaitu stand cairan pembersih “Power Kleen”. Sang penjaga stand menjelaskan kelebihan produk ini, yaitu sanggup meluruhkan kotoran yang sebandel apa pun. Aplikasinya meliputi sebagai engine degreaser, pembersih jamur kaca mobil, pemoles lantai, dan lain-lain. Karena demonstrasi yang dilakukan sang penjaga stand cukup meyakinkan (noda oli yang pekatnya minta ampun bisa luruh dalam sekejap, dari karpet pula), dan kebetulan saya juga butuh membersihkan kaca mobil saya dari kerak-kerak jamur, akhirnya saya beli sebotol seharga Rp. 80 ribu (harga normalnya Rp. 100 ribu). Agak disayangkan mendengar dari sang penjaga stand bahwa untuk saat ini produk ini belum di rilis secara bebas, masih dalam tahap “bergerilya” dari satu pameran ke pameran lainnya, dari satu bazaar ke bazaar lainnya. Tambahan info: bahan aktifnya sodium. Saya sempat bertanya “keras dong bang?”, “gak kok pak, keras kalo di minum, hehehe, buat di tangan aman kok” (sambil menyemprotkan cairan pembersih tersebut ke tangannya).

Apa lagi yang menarik ya? Oh ya, makanan! …

Dari dunia kuliner, satu stand nampak ramai dikunjungi orang-orang, yaitu stand “Chocodot”, produsen coklat dari Garut. Coklat yang ditawarkan bermacam-macam, mulai dari milk chocolate, dark chocolate, bahkan white chocolate. Kemasannya diberi judul yang lucu-lucu dan agak nyleneh, semisal “coklat anti galau”, “coklat gawat darurat”, “coklat enteng jodoh”, dan lain sebagainya. Untuk yang kemasan batangan 3×4 blok, dihargai Rp. 18 ribu, sedangkan untuk yang kemasan botol kapsul, Rp. 25 ribu. Saya beli beberapa untuk dicoba, dan ternyata rasanya enak, terutama yang dark chocolate. Sayang tidak ada varian yang berisi kacang-kacangan, paling adanya varian campur dodol ama campur korma..

Di pameran ini hadir juga stand Cimory, produsen susu dan olahan susu lainnya yang sudah punya nama besar di Indonesia.

Sebagai penutup kunjungan, saya mampir sebentar ke stand Delfi, buat beli satu pak hot chocolate drink nya. Satu pak isi 20 sachet dihargai Rp. 40 ribu, dan pembelian di pameran mendapatkan hadiah langsung 1 mini-mug cantik.

Penutup: saya jadi teringat kata-kata seseorang (lupa siapa), yang pernah mengatakan begini, “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai hasil karyanya sendiri”. Mungkin dengan mengunjungi pameran ini, sedikit banyak saya bisa menunjukkan penghargaan tersebut. Bagaimana dengan anda, sudahkah anda berbangga dengan label “made in Indonesia”?

– Jakarta, 19 Mei 2012 –

Advertisements

Masukan anda sangat berarti:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s