FOCUS 2013: Jakarta Photo & Digital Imaging Expo, 6 – 10 Maret 2013

Sebagai seorang pelajar fotografi, rasanya sayang kalau melewatkan pameran FOCUS yang diadakan setahun sekali ini. Apalagi pameran ini digadang sebagai “the biggest digital imaging industry expo in Indonesia”, seperti yang bisa dilihat di website resminya di www.expo-focus.com. Pokoknya berkunjung ke pameran ini sudah menjadi agenda tahunan wajib bagi saya. Mungkin anda juga..

Seperti biasanya pula, bersamaan dengan pameran FOCUS ini, diadakan juga pameran Mega Bazaar Computer. Jadi bagi anda yang berminat mengunjungi pameran FOCUS ini di akhir minggu, datang di pagi hari mungkin bisa jadi pilihan (karena semakin siang semakin ramai pengunjungnya, dan saya juga melakukan hal tersebut: datang ketika buka pagi-pagi sekali). Belum lagi ditambah bahwa di Istora Senayan juga sedang berlangsung Islamic Book Fair (Pameran Buku Islami) 2013, membuat kawasan Gelora Senayan semakin menjadi layaknya lautan manusia..

Setelah membayar Rp. 15 ribu sebagai penebus tiket masuk (satu tiket untuk dua pameran Mega Bazaar dan FOCUS), kesan pertama yang saya dapat adalah: FOCUS tahun ini sedikit sepi. Betapa tidak? Tahun lalu arena lobby Assembly Hall saja sudah dipadati dengan berbagai booth, kali ini hanya diisi dengan panggung acara kompetisi foto dan beberapa display kreasi murid-murid sekolah fotografi “Darwis Triadi School of Photography”, serta kreasi komunitas penggemar foto underwater “Fun-In Club”. Mungkin untuk mengakomodir acara kompetisi foto yang memang pesertanya biasanya suka membludak. Sambil berharap semoga kesan pertama saya ini tidak terbukti benar sepenuhnya, saya memasuki arena utama pameran..

IMG_7349IMG_7352IMG_7354IMG_7357IMG_7361IMG_7366IMG_7370IMG_7373

Kesan kedua yang saya dapat ketika memasuki Assembly Hall: layout pameran boleh dibilang nyaris tidak berubah, hampir sama persis plek-sek dengan tahun lalu. Misal:  booth Fujifilm dan Canon masih berada persis di depan pintu masuk, dengan booth Nikon dan Olympus di sisi yang berseberangan, di area tengah dan dekat pintu keluar adalah stand-stand toko-toko aksesoris kamera terkemuka, sedangkan di sisi tembok biasanya diisi oleh booth-booth komunitas fotografi dan sekolah fotografi. Yah, setidaknya hal ini mempermudah saya dalam bernavigasi mengelilingi pameran.

Panorama 2

Saya mulai dari booth Fujifilm. Di sini highlight utamanya adalah lini X, terutama XE-1, X100S, dan X20, dimana pameran ini adalah juga sebagai ajang perdana X100S dan X20 untuk unjuk tampil. Saya pribadi ketika mendengar seri X20 sekitar akhir tahun lalu, sangat tertarik dengan produk ini. Mengusung sensor X-Trans inovasi mutakhir Fujifilm, di atas kertas menjanjikan performa noise yang rendah, detail lebih tajam, dan warna lebih cemerlang dibanding sensor konvensional yang masih menggunakan grid warna tipe Bayer dan low-pass optical filter. Ditambah pula dengan ukuran sensor yang lebih besar dibanding kebanyakan kamera compact prosumer lainnya (sensor X20 berukuran 2/3 inci), plus desain retro yang unik. Di pameran ini X20 dilepas dengan harga Rp. 5.9 juta, sudah termasuk bonus SD card 16gb class-10, lens hood, dan cleaning kit yang praktis. Sedangkan untuk X100S (sensor X-Trans APS-C dengan lensa fix 23mm ekuivalen dengan 35mm), dibanderol dengan harga Rp. 9 juta. Di booth ini juga ada beberapa foto hasil jepretan X100S, dan tidak salah bahwa label premium yang diusung X100S memang sebanding dengan gambar yang dihasilkannya..

IMG_7376IMG_7379IMG_7384IMG_7394IMG_7433

Kemudian menuju ke booth Canon, tanpa menunda-nunda saya langsung tanya ke penjaga stand-nya, “6D body only yang WiFi dan GPS berapa mas?”. Dijawab singkat, “18.4 juta pak”. Hmm…. walaupun 6D diusung sebagai “kamera full-frame murah Canon”, tetap saja dengan harga sedemikian bagi saya masih terbilang tinggi sekali. Ya sudah, saya lihat-lihat barang yang lain dulu.. Untuk diskon, lensa dan aksesori lain seperti flash saya perhatikan diskonnya juga lumayan, berkisar 100 – 200 ribu. Semoga tahun depan itu 6D bisa terbeli (amin!).. EOS M juga nampak sebagai seri yang digadang untuk jadi best-seller di pameran ini, dengan diskon atraktif buat body + kit lens nya..

IMG_7397IMG_7418IMG_7421

Lalu ke booth Nikon. “Kuncian” utama disini adalah seri middle D7000, seri pemula D3200, dan seri mirrorless Nikon J2. Untuk seri pemula, Nikon D3200 menawarkan resolusi 24 megapiksel, tertinggi dibanding tawaran dari produsen lain (Canon mentok di 18 megapiksel, Olympus dan Panasonic di 16 megapiksel). Penggunaan sensor beresolusi setinggi itu di kamera kelas pemula boleh dibilang merupakan langkah berani dari Nikon, jauh mengalahkan pesaing terdekatnya Canon 650D yang cuma 18 megapiksel.

IMG_7424IMG_7427IMG_7429IMG_7519

Di sebelah booth Nikon persis adalah booth Olympus. Yang saya incar di sini adalah Olympus XZ-2, kamera prosumer kelas atas dari Olympus (kalau kelas bawahnya adalah XZ-10). XZ-2 walaupun bersensor kecil (1/7 inci) namun dilengkapi dengan lensa Zuiko f1.8 – 2.5 dan LCD touch-and-tilt screen, serta prosesor TruePic VI yang juga di pakai di mirrorless kelas atas OM-D EM5, menjanjikan performa mumpuni. Harga XZ-2 di pameran ini dibanderol Rp. 5.6 juta, sedangkan OM-D EM5 dengan lensa 12-50 dilego Rp. 13 juta. Berhubung bapak Darwis Triadi adalah brand ambassador dari Olympus, tidak mengherankan kalau karya-karya murid beliau juga ditampil di booth ini..

IMG_7462IMG_7465IMG_7468IMG_7499

Di arena tengah, stand Sigma dirancang unik seperti akuarium. Bagi anda yang bawa body camera DSLR, silahkan mencoba koleksi lensa terbaru mereka sebelum memutuskan untuk membeli. Saya tertarik dengan 35mm f1.4 nya, namun berhubung lensa lama saya belum laku terjual di KasKus (prinsip saya: jual yang lama kalau mau beli yang baru, hehehe…), saya hanya bisa berlalu sambil “kabita” kalau kata orang Sunda…

IMG_7511

Beralih ke stand Tamron, saya iseng bertanya ke penjaganya “yang 70-200 VC USD f2.8 berapa harganya pak?”, yang dijawab “13.4 juta pak”. Glek!

Sebuah booth penjual tas kamera nampak ramai diserbu pengunjung. Sepertinya ada diskon besar-besaran, terutama untuk tas “branded” National Geographic (pakem yang berlaku: tas kamera National Geographic adalah identitas fotografer kawakan!) Open-mouthed smile

IMG_7507

Booth toko kamera langganan saya (tokocamzone) nampak berada di dekat pintu keluar. Oh ya, sedikit mengganggu: sekuriti kali ini agak-agak galak, pintu masuk tidak boleh dipakai untuk keluar, dan sebaliknya. Tahun lalu tidak seperti itu lho!

IMG_7473IMG_7476

Ada beberapa stand komunitas yang menarik perhatian saya. Yang pertama adalah Komunitas Kamera Lubang Jarum Indonesia (KLJINDONESIA). Bagi anda yang “hmmm? apa itu kamera lubang jarum?”, itu adalah kamera sederhana yang tebuat dari medium tertutup seperti kaleng bekas atau kardus bekas, yang salah satu sisinya dilubangi kecil (sebesar paku) dan satu sisinya ditempel negatif film. Karena mediumnya bisa apa saja, bentuk kamera yang bisa dibuat pun bisa macam-macam dan unik-unik.

IMG_7454IMG_7451

Yang kedua adalah komunitas kamera analog. Di sini anda bisa bertemu dengan teman-teman “sejiwa” pecinta fotografi klasik yang masih mengandalkan roll demi roll negatif film untuk menangkap gambar. Beberapa kamera lama seperti Contax, Yashica, Pentax, Canon AF-1 dan Olympus OM-D klasik bisa anda temukan di sini.

IMG_7478IMG_7481IMG_7484IMG_7487

“Bagaimana dengan booth Sony?”. Hal tersebut selintas terpikir setelah dua kali mengelilingi arena pameran dan tidak menemukan booth nya. Setelah bertanya sejenak di bagian informasi, ternyata booth Sony ada di luar Assembly Hall, persisnya di depan lobby Plenary Hall. Di sini yang menjadi “jagoannya” adalah full-frame terbaru mereka yaitu A99, serta compact prosumer RX100. A99 sendiri sebagai kamera dengan sensor full-frame pertama yang menggunakan teknologi SLT (Single Lens Tranluscent, menggunakan cermin semi-transparan alih-alih cermin refleksi penuh sebagai sarana pembidik dan pendeteksi autofocus), beresolusi 24 megapiksel dan LCD berjenis bisa diputar-putar (tilting), lagi-lagi fitur yang pertama kalinya ada di kamera full-frame. Saya coba pegang, jauh lebih berat dibanding 60D yang saya gunakan. Soal harga? “Hanya” Rp. 25 juta saja kok, body only pula Open-mouthed smile. Sedangkan RX100 yang digadang sebagai kamera ringkas bersensor terbesar (1 inci full!), jauh di atas rival-rivalnya. Sayang lensanya “hanya” berbukaan maksimum f4.9 di ujung telezoom nya, jauh di bawah pesaing yang bukaannya besar-besar (f2.5 di Olympus XZ-2, f2.8 di Canon G15 dan Fujifilm X20). Namun kecanggihan manufaktur Sony patut dipuji: dengan sensor sebesar itu, RX100 berukuran sangat, sangat ringkas, tidak lebih besar dari telapak tangan saya. Tapi harus dibayar dengan harga yang paling tinggi diantara kelas prosumer: Rp. 6.6 juta (selama pameran bonus SD Card 16gb).

IMG_7528IMG_7532

Incaran saya yang lain di booth Sony adalah NEX-6, versi lebih terjangkau dari NEX-7. Mengusung electronic viewfinder yang sudah built-in, sensor APS-C beresolusi 16 megapiksel, dan layar LCD jenis tilting, kamera ini bisa menjadi pilihan bagi anda yang suka dengan konsep “ukuran mini hasil maksimal”. Untuk double-kit (dua lensa: 16-50mm dan 55-210mm) dihargai Rp. 12 juta, sedangkan single-kit (dengan lensa 16-50mm) Rp 9 juta.

IMG_7538

Penutup: agak disayangkan bahwa di pameran ini tidak menghadirkan bursa barang-barang bekas yang mungkin bisa lebih menarik para pengunjung, misal dari peminat lensa-lensa manual. Walau pun begitu, bila anda seorang peminat fotografi, atau sedang berencana mencari kamera digital baru, berkunjung ke pameran ini tidak ada ruginya… paling merusak mata (mata pencaharian gara-gara belanja perlengkapan! 😀 )

One thought on “FOCUS 2013: Jakarta Photo & Digital Imaging Expo, 6 – 10 Maret 2013

Masukan anda sangat berarti:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s